Selasa, 06 November 2012

WIJEN


                     I.          PENDAHULUAN

Tanaman Wijen (Sesamum indicum L.) mempunyai beberapa keunggulan seperti tahan kering, mutu biji tetap baik walaupun ditanam pada lahan kurus dan dapat dibudidayakan secara ekstensif, mempunyai nilai ekonomi yang relative tinggi dan dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lain. Merupakan penghasil minyak nabati yang banyak digunakan untuk aneka industri, seperti industri makanan, kosmetik, farmasi dan lain-lain. Kebutuhan wijen masih belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, terbukti masih adanya impor biji dan minyak wijen setiap tahun. Untuk tahun 2005 impor biji wijen sebesar 2.804 ton dengan nilai US $ 1,19 juta dan minyak wijen sebesar 545 ton dengan nilai US $ 555 ribu. Tahun 2007 impor biji wijen sebesar 2.862 ton dengan nilai US $1,28 juta dan minyak wijen 550 ton dengan nilai US $ 598 ribu. Demikian pula permintaan dunia akan biji wijen meningkat dari tahun ketahun. Daerah sentra produksi tradisional adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Disamping itu juga dibudidayakan di Lampung, NTB, Sulawesi Selatan, NTT. Peluang pengembangan wijen masih cukup tinggi karena potensi lahan yang sesuai cukup luas, terutama di Kawasan Indonesia Timur (KTI), yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan kering beriklim kering.

 II.          PENGENALAN KOMODITAS WIJEN
 Nama Umum Tanaman Wijen
·       Indonesia  : Wijen
·       Inggris       :  Sesame
·       Pilipina     : Linga

Klasifikasi Tanaman Wijen
·       Kingdom                           : Plantae (Tumbuhan)
·       Subkingdom                     : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
·       Super Divisi                      : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
·       Divisi                                : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
·       Kelas                                 : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
·       Sub Kelas                          : Asteridae
·       Ordo                                  : Scrophulariales
·       Famili                               : Pedaliaceae
·       Genus                                : Sesamum
·       Spesies                              : Sesamum indicum L.


Wijen merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon berbatang lunak musiman yang berasal dari Asia Tengah, tepatnya India di Punjab dan Kashmir, Afghanistan serta Tajikistan. Namun ada pula yang berpendapat bahwa wijen adalah tanaman asli daerah tropis di kawasan Asia dan Afrika. Pusat penyebaran wijen adalah negara-negara beriklim tropis terutama Thailand, Vietnam, Cina dan Hongkong yang membudidayakannya dengan intensif. Di Indonesia, wijen juga dinamakan walir (Jawa Barat), Lenga (Bali, Gorontalo,Batak), Lena (Seram dan Roti), Langan (Ujung Pandang), Ringa (Bima), Longa (Nias). Wijen termasuk salah satu tanaman yang pertama kali diambil bijinya untuk dijadikan minyak dan penyedap makanan. Dalam bahasa Tamil, ennai berarti minyak. (Ochse et at. (1961).


III.          DESKRIPSI

A, Secara Mofologi
Akar tanaman ini bertipe akar tunggang dengan banyak akar cabang yang sering bersimbiosis dengan mikoriza VA (vesikular-arbuskular). Tanaman mendapat keuntungan dari simbiosis ini dalam memperoleh air dan hara dari tanah. Penampilan morfologinya mudah dipengaruhi lingkungan. Tinggi bervariasi dari 60 hingga 120cm, bahkan dapat mencapai 2-3m. Batangnya berkayu pada tanaman yang telah dewasa. Daun tunggal, berbentuk lidah memanjang. Bunga tumbuh dari ketiak daun, biasanya tiga namun hanya satu yang biasanya berkembang baik. Bunga sempurna, kelopak bunga berwarna putih, kuning, merah muda, atau biru violet, tergantung varietas. Dari bunga tumbuh 4-5 kepala sari. Bakal buah terbagi dua ruang, yang lalu terbagi lagi menjadi dua, membentuk polong. Biji terbentuk di dalam ruang-ruang tersebut. Apabila buah masak dan mengering, biji mudah terlepas ke luar, yang menyebabkan penurunan hasil. Melalui pemuliaan, sifat ini telah diperbaiki, sehingga buah tidak mudah pecah ketika mengering. Banyaknya polong per tanaman, sebagai faktor penentu hasil yang penting, berkisar dari 40 hingga 400 per tanaman. Bijinya berbentuk seperti buah apokat, kecil, berwarna putih, kuning, coklat, merah muda, atau hitam. Bobot 1000 biji 2-6 g. (Weiss, 1971).


B.    Tipe Perkecambahan dan Penyerbukannya
Tipe perkecambahan pada tanaman wijen adalah Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya.
Tanaman wijen tergolong tanaman menyerbuk sendiri secara alami. Penyerbukan dapat juga terjadi oleh serangga, tetapi tidak pernah terjadi penyerbukan oleh angin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada persilangan buatan tanaman wijen adalah:
1. Harus diketahui periode berbunga tetua yang akan disilangkan, sehingga dapat diatur waktu tanamnya. Periode berbunga tanaman wijen berkisar antara umur 24 sampai dengan 62 hari.
2.  Waktu masaknya organ generatif, untuk menentukan saat melakukan emaskulasi dan persilangan. Bunga wijen mekar pada pagi hari dan layu mulai tengah hari sampai sore hari. Kepala putik menjadi dewasa dan siap diserbuki sehari sebelum bunga mekar. Keadaan tersebut bertahan sampai satu hari berikutnya. Kepala sari membuka dan mengeluarkan tepung sari setelah bunga mekar
                                                             

IV.          SYARAT TUMBUH

Syarat tumbuh tanaman wijen adalah sebagai berikut :
1.     Tumbuh di daerah tropika dan sub tropika antara 35 0 L.U dan 40 0 L.S.
2.     Ketinggian antara 1-1.250 meter diatas permukaan laut.
3.     Suhu optimal untuk produksi tinggi 25–27 0 C.
4.     Curah hujan 400-600 mm. Curah hujan kurang 300 mm atau lebih dari 1.000 mm akan sangat mengganggu pertumbuhan. Idealnya wijen ditanam pada wilayah kering dengan bulan basah maksimal 3 bulan.
5.     Jenis tanah berpasir sampai lempung dengan pH tanah optimum pada kisaran 5,5 -8,0.


V.          TEKNIK BUDIDAYA

1.     Varietas.
Penggunaan varietas perlu disesuaikan dengan kondisi iklim, tanah dan tujuan penanaman. Pada pertanaman monokultur dianjurkan menggunakan varietas bercabang dan pertanaman polikultur, tumpangsari menggunakan varietas yang tidak bercabang. Pada tahun 1997 telah dilepas 2 (dua) varietas unggul wijen oleh Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat (Balittas, yaitu var Sumberejo 1 (Sbr1) produktivitas 1-1,6 ton/hektar dan habitus bercabang banyak dan Sumberejo 2 (Sbr2) dengan produktivitas 0,8-1,4 ton/hektar dan habitus tidak bercabang.

2.     Cara Memilih Bibit Wijen.
1.     Pilihlah tanaman wijen yang berbuah banyak sebelum panen.
2.     Setelah biji-biji dibersihkan, lalu jemurlah.
3.     Kemudian biji-biji disimpan di dalam botol dan taburkan abu yang agak tebal diatasnya.
Waktu untuk menanam biasanya dipilih menjelang musim kemarau atau setelah selesai penanaman padi. Mula-mula tanah dipacul hingga gembur. Bila tanahnya agak berat,boleh dibajak selama 1 – 2 kali bajak, kemudian biji-biji ditanam dalam lubang-lubang dengan kedalaman 2 – 2½ cm. Setiap lubang diisi dengan 4 – 5 biji.
Pada umur lima hari setelah penanaman, biji-biji sudah mulai agak besar, tanaman harus diperjarang menjadi dua batang saja. Ini berguna, agar tanaman itu cukup sehat dan kuat dengan hasil yang baik.

3.     Kebutuhan Benih.
Kebutuhan benih untuk penanaman monokultur 2,5–4 kg/ha dan untuk tumpangsari 1–2 kg/ha. Untuk mencegah kekurangan benih pada saat penanaman (karena bijinya kecil-kecil), maka benih dicampur terlebih dahulu dengan abu dapur/pasir dengan perbandingan 1:1.



3. Penanaman
Setelah tanah diolah dapat dilakukan penanaman dengan ditugal (apabila tanah sudah basah) atau dicoak (tanah yang masih kering). Jarak tanam dengan pola tanam monokultur 25 cm x 40 cm atau 25 cm x 60 cm. Sedangkan dengan pola tanam tumpangsari dapat disesuaikan dengan jenis tanaman pokoknya. Waktu tanam pada wilayah yang musim hujannya pendek pada awal musim penghujan dan untuk wilayah berpengairan atau musim hujannya panjang pada akhir musim penghujan yaitu 1–2 bulan sebelum bulan kering. Umur tanaman wijen berkisar 75-150 hari.

4.     Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman wijen yang dilakukan adalah penjarangan, penyiangan, pengairan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Penjarangan dilakukan setelah umur 15-20 hari, tiap lubang tanam disisakan 2 tanaman. Penyiangan/pengendalian gulma dilakukan sejak awal pertumbuhan sampai umur 45 hari sebanyak 2-3 kali.
Pupuk dasar (PdanK) apabila diperlukan dapat diberikan seluruhnya pada saat tanam dan pupuk N diberikan hanya 1/3 dari dosis yang direkomendasikan, sisanya 2/3 dosis diberikan pada saat tanaman berumur 30-35 hari. Dosis pupuk N sebanyak 45 kg/hektar (setara 100 kg Urea), sedang pupuk P dan K disesuaikan dengan kesuburan tanah. Cara pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara di tugal 5 cm dari lubang tanam sedalam 2,5–5 cm.

5.     Hama dan Penyakit
Hama tanaman wijen antara lain: hama keriting daun (Polyphagotarsonemus sp, Aphis sp.), penggerek daun (Antigastra sp).
Penyakit tanaman wijen antara lain filodi, bercak daun, keriting daun.
Pengendalian dapat dilakukan secara budidaya, mekanis dan kimiawi. Pengendalian secara kimia dirasa kurang efisien, sehingga umumnya ditempuh dengan penggunaan varietas yang toleran, pengaturan jarak tanam, pola tanam dan waktu tanam.



6. Panen dan Pasca panen
Panen yang tepat dilakukan bila 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan.Penguningan dimulai dari polong-polong yang berkedudukan dibawah. Bila terlambat, polong akan pecah, biji jatuh dan tidak lagi dapat diambil. Panen dilakukan dengan cara batangnya dipotong 10-15 cm dibawah polong buah. Batang yang telah dipotong dibendel dan diikat dengan garis tengah 15-20 cm, kemudian dijemur dibawah sinar matahari dengan keadaan berdiri selama 3-5 hari sampai kadar airnya mencapai + 6%. Tempat penjemuran sebaiknya diberi alas/ tikar untuk menampung biji yang rontok. Jika polong sudah pecah maka bendelan wijen dibalik sambil dipukul-pukul batangnya agar biji wijen keluar dari polongnya. Pengeringan yang kurang kering menyebabkan biji wijen mudah rusak dalam penyimpanan, tetapi kalau terlalu kering akan menurunkan kadar minyaknya. Penyimpanan biji kering sebaiknya dengan pembungkus yang kedap udara.


DAFTAR PUSTAKA

Amor. 2012. Wijen. http://www.plantamor.com/index.php?plant=1136. Diakses tanggal 24 September 2012.

Arsyad, Fauzi. 2011. Tanaman Sorgum, Gandum, Wijen, Juwawut. http://chylenzobryn.blogspot.com/2011/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html. Diakses tanggal 24 September 2012.

Nurlikasari, Novi. 2010. Tanaman Wijen dan Manfaatnya. http://kamipintar.blogspot.com/2010/02/tanaman-wijen-dan-manfaatnya.html. Diakses tanggal 24 September 2012.
                                           
Yohana, Revi. 2012. Budidaya Wijen: Tumbuh Baik di Lahan Kering 2. http://peluangusaha.kontan.co.id/news/budidaya-wijen-tumbuh-baik-di-lahan-kering-2/2012/09/13. Diakses tanggal 24 September 2012.




RANCANGAN BUDIDAYA WIJEN

HARI KE-
PERLAKUAN
1
·       Penananaman
·       Pemupukan
·       Pengairan
15-20 hari setelah tanam
·       Penjarangan
·       Penyiangan
30-35 hari setelah tanam
·       Pemupukan
·       Penyiangan
45 hari setelah tanam
·       Penyiangan
75-150 hari setelah tanam
·       Pemanenan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar